CONEFO
BERJIWA “TAT TWAM ASI”
Amanat Gemblengan
Presiden Sukarno Kepada Para Petugas/Karyawan Kopronef
Pada Tanggal 7 Februari 1966 Di Istana Negara, Jakarta
PJM Presiden Sukarno:
“……………. Jikalau engkau sudah Tat Twam Asi sebagai manusia dengan
semua manusia di dunia ini, dan sebagai bangsa dengan semua bangsa di dunia
ini, barulah engkau mempunyai jiwa conefo itu di dalam engkau punya dada,
engkau bisa bekerja untuk pembangunan Gedung Conefo ini dengan mencucurkan
engkau punya keringat dan dengan semangat yang berkobar-kobar.”
Saudara-saudara sekalian,
Beberapa waktu
yang lalu, Saudara Ir Sutami saya panggil menghadap ke Istana Merdeka, dan di
situ saya berikan perintah kepada Saudara Ir Sutami untuk mempercepat
pembangunan gedung Conefo. Yang tadinya saya perintahkan pembangunan ini
selesai pada tanggal 17 Agustus tahun ini, saya perintahkan untuk dipercepat
menjadi 31 Juli tahun ini. Jadi sekarang tinggal setengah tahun, atau enam
bulan; Feburari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, setengah tahun. Saya harap
saudara-saudara sekalian bisa melaksanakan perintah saya ini. Sebabnya setengah
tahun bukanlah waktu yang panjang, tetapi pun waktu yang yah, lumayanlah,
kalalu kita mau bekerja mati-matian.
Bekerjalah Keras Dengan Semangat Hebat!
Saya amat
gembira sekali bahwa Komandan Sutami tadi mengatakan bahwa syarat mutlak untuk
menyelesaikan gedung Conefo ini, pertama bekerja keras, dua bekerja keras, tiga
bekerja keras. Ditambah oleh Pak Bandrio, modal daripada segala hal sebetulnya
ialah tekad, mental, kemauan. Yah, itu benar sekali bekerja keras dengan tekad
mental, semangat yang hebat. Dan jikalau kita bekerja demikian, saya kira
perintah saya untuk menyelesaikan pembangunan Conefo pada tanggal 31 Juli itu
dapat tercapai.
Jadi,
Saudara-saudara selama saya menjadi Presiden sering saya ini ngamuk-ngamuk,
marah-marah kepada pekerja-pekerja, kepada Menteri-menteri, yang kalau
bekerjanya kurang cepat, kurang lekas selesai, kurang sempurna, selalu
menjawab: “Pak, uangnya tidak ada, teu aya artos, Pak, teu aya artos, tidak ada
uang”. Maksud mereka, kasihlah uang kepada saya sebagai Menteri, nanti saya
selesaikan pekerjaan ini dengan cepat. Dan saya dengan terus terang, kepada
Menteri yang demikian itu saya kasi donder, masa engkau itu hanya bisa bekerja,
jikalau uang cukup! Tentu saja jikalau kita punya semangat kurang hebat, tentu
saja pekerjaan tidak bisa lancar.
Ini tadi saya
mengatakan bahwa saya donder kepada Menteri, saya juga donder banyak sekali
kepada orang-orang yang bukan Menteri. Kepada pegawai-pegawai tinggi, kepada
pegawai menengah, bahkan kepada tukangkebon-tukangkebon saya sering donder.
Heh, tadi Pak
Bandrio menyebutkan unggulnya rakyat Vietnam, yang tidak banyak jumlahnya,
tetapi digempur oleh kekuatan imperialis yang paling kuat di dunia ini, en toch
sampai sekarang masih tetap berdiri. Itu sebagai kukatakan di dalam pidatoku di
hadapan Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional), rahasianya apa? Kok rakyat
kecil, dikatakan tidak terlalu kaya, dapat menahan gempuran imperialism dengan
segala macam senjata modern. Di dalam pidato saya di hadapan Lemhannas itu saya
berkata, pokok daripada segala pokok ialah semangatnya, tekadnya. Malah saya
citeer pada waktu pidato saya itu ucapan kawan kita Ho Chi Minh: “Hah 10 tahun
lagi, 20 tahun lagi, 30 tahun lagi kita masih tahan dihantam oleh Amerika
secara demikian”.
Dulu pernah,
Saudara-saudara, Napoleon, orang yang begini ini (hebat-Red), dia berkata dalam
bahasa Perancis, ingati saya lho kalau salah, Pak Ali minta corrigeer: Pour
faire la guerre, il me taut de l’argent, artinya, untuk peperangan saya
membutuhkan uang, sekali lagi uang, sekali lagi uang. Pour faire la guerre, il
me faut de l’argent. Pada waktu itu saya pemuda, membaca kalimat Napoleon itu
saya terpengaruh, terpukau. Belakangan, sesudah kita merdeka 20 tahun ini,
melihat praktek kita sehari-hari, uang adalah bukan salah satu faktor yang
beslissend. Satu faktor yang penting, tentu faktor yang
penting, tetapi meskipun ada uang cukup, kalau semangat yang hendak
mempergunakan uang itu semangat melempem, tidak bisa tercapai apa yang hendak
kita tuju. Karena itu Saudara-saudara, saya amat bergembira sekali dengan
pidato Komandan Sutami, dan Waperdam I Subandrio yang mengatakan kerja keras,
semangat hebat.
Nah ini saya minta kepada kamu orang sekali
lagi, supaya betul-betul bekerja keras dengan tekad, semangat yang
sehebat-hebatnya. Janganlah kita setengah-setengah. Sebab sebagai tadi
dikatakan oleh Pak Bandrio, Conefo itu sebenarnya adalah satu hal yang
mengenai, meskipun tidak mutlak, mengenai kelanjutan hidup kita sebagai negara, sebagai bangsa
yang merdeka.
CONEFO SUATU KEMUTLAKAN
Tadi Pak
Bandrio menceritakan hal imperialisme internasional, yang jangan mengira kita
bisa mengalahkan imperialisme internasional itu dengan cara teknik tradisional,
tetapi pertama harus dengan semangat kemerdekaan yang berkobar –kobar diantara
seluruh New Emerging Forces.
Pada waktu
demonstrasi-demonstrasi mahasiswa, Saudara-saudara, ada yang berteriak: “He,
buat apa bikin Conefo”. Ada juga: “Buat apa Tugu Nasional”. “Buat apad
Departemen Store Sarinah”. “Yang penting ialah harga beras, harga beras”.
Lantas di dalam salah satu pidato saya, saya terangkan bahwa Zelfs, bahkan
sampai-sampai kepada Tugu Nasional itu adalah satu kemutlakan bagi kita. Sebagai
yang kukatakan, Tugu Nasional adalah menurut istilah Chrustjov, celana.
Demikian pula Departemen Store Sarinah adalah suatu kemutlakan buat berjalannya
satu masyarakat sosialis, Conefo demikian juga.
Dunia sekarang
ini, di dalam konstelasi dunia sekarang ini, kalau kita hendak berdiri terus
sebagai negara, kita pertama-tama harus himpun tenaga, semua tenaga-tenaga
progresif-revolusioner di muka bumi ini.
Perkataan
progresif revolusioner ini sekarang pun sudah menjadi perkataan tukang jual
kecap. Iya, tiap-tiap orang menebah dada, “aku progresif revolusioner, aku
progresif revolusioner”. Dan aku sering tanya, apa toh, yang bernama progresif
revolusioner itu apa? Plonga-plongo, nggak ngerti, seperti orang jual kecap
yang selalu berkata: “he, kecapku nomor satu, kecapku yang paling enak, kecapku
yang paling enak, kecapku tidak ada tandingannya”. Kecap, kecap, kecap, kecap.
Progresif revolusioner pun dikecapkan, Saudara-saudara. “Aku progresif
revolusioner, aku progresif revolusioner,
aku progresif revolusioner”.
No comments:
Post a Comment