Saturday, April 21, 2018

Conefo Presiden Sukarno



CONEFO
BERJIWA “TAT TWAM ASI”

 
Amanat Gemblengan Presiden Sukarno Kepada Para Petugas/Karyawan Kopronef
Pada Tanggal  7 Februari 1966 Di Istana Negara, Jakarta

 
PJM Presiden Sukarno:
“……………. Jikalau engkau sudah Tat Twam Asi sebagai manusia dengan semua manusia di dunia ini, dan sebagai bangsa dengan semua bangsa di dunia ini, barulah engkau mempunyai jiwa conefo itu di dalam engkau punya dada, engkau bisa bekerja untuk pembangunan Gedung Conefo ini dengan mencucurkan engkau punya keringat dan dengan semangat yang berkobar-kobar.”


Saudara-saudara sekalian,
Beberapa waktu yang lalu, Saudara Ir Sutami saya panggil menghadap ke Istana Merdeka, dan di situ saya berikan perintah kepada Saudara Ir Sutami untuk mempercepat pembangunan gedung Conefo. Yang tadinya saya perintahkan pembangunan ini selesai pada tanggal 17 Agustus tahun ini, saya perintahkan untuk dipercepat menjadi 31 Juli tahun ini. Jadi sekarang tinggal setengah tahun, atau enam bulan; Feburari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, setengah tahun. Saya harap saudara-saudara sekalian bisa melaksanakan perintah saya ini. Sebabnya setengah tahun bukanlah waktu yang panjang, tetapi pun waktu yang yah, lumayanlah, kalalu kita mau bekerja mati-matian.
Bekerjalah Keras Dengan Semangat Hebat!
Saya amat gembira sekali bahwa Komandan Sutami tadi mengatakan bahwa syarat mutlak untuk menyelesaikan gedung Conefo ini, pertama bekerja keras, dua bekerja keras, tiga bekerja keras. Ditambah oleh Pak Bandrio, modal daripada segala hal sebetulnya ialah tekad, mental, kemauan. Yah, itu benar sekali bekerja keras dengan tekad mental, semangat yang hebat. Dan jikalau kita bekerja demikian, saya kira perintah saya untuk menyelesaikan pembangunan Conefo pada tanggal 31 Juli itu dapat tercapai.
Jadi, Saudara-saudara selama saya menjadi Presiden sering saya ini ngamuk-ngamuk, marah-marah kepada pekerja-pekerja, kepada Menteri-menteri, yang kalau bekerjanya kurang cepat, kurang lekas selesai, kurang sempurna, selalu menjawab: “Pak, uangnya tidak ada, teu aya artos, Pak, teu aya artos, tidak ada uang”. Maksud mereka, kasihlah uang kepada saya sebagai Menteri, nanti saya selesaikan pekerjaan ini dengan cepat. Dan saya dengan terus terang, kepada Menteri yang demikian itu saya kasi donder, masa engkau itu hanya bisa bekerja, jikalau uang cukup! Tentu saja jikalau kita punya semangat kurang hebat, tentu saja pekerjaan tidak bisa lancar.
Ini tadi saya mengatakan bahwa saya donder kepada Menteri, saya juga donder banyak sekali kepada orang-orang yang bukan Menteri. Kepada pegawai-pegawai tinggi, kepada pegawai menengah, bahkan kepada tukangkebon-tukangkebon saya sering donder.
Heh, tadi Pak Bandrio menyebutkan unggulnya rakyat Vietnam, yang tidak banyak jumlahnya, tetapi digempur oleh kekuatan imperialis yang paling kuat di dunia ini, en toch sampai sekarang masih tetap berdiri. Itu sebagai kukatakan di dalam pidatoku di hadapan Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional), rahasianya apa? Kok rakyat kecil, dikatakan tidak terlalu kaya, dapat menahan gempuran imperialism dengan segala macam senjata modern. Di dalam pidato saya di hadapan Lemhannas itu saya berkata, pokok daripada segala pokok ialah semangatnya, tekadnya. Malah saya citeer pada waktu pidato saya itu ucapan kawan kita Ho Chi Minh: “Hah 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, 30 tahun lagi kita masih tahan dihantam oleh Amerika secara demikian”.
Dulu pernah, Saudara-saudara, Napoleon, orang yang begini ini (hebat-Red), dia berkata dalam bahasa Perancis, ingati saya lho kalau salah, Pak Ali minta corrigeer: Pour faire la guerre, il me taut de l’argent, artinya, untuk peperangan saya membutuhkan uang, sekali lagi uang, sekali lagi uang. Pour faire la guerre, il me faut de l’argent. Pada waktu itu saya pemuda, membaca kalimat Napoleon itu saya terpengaruh, terpukau. Belakangan, sesudah kita merdeka 20 tahun ini, melihat praktek kita sehari-hari, uang adalah bukan salah satu faktor yang beslissend. Satu faktor yang penting, tentu faktor   yang penting, tetapi meskipun ada uang cukup, kalau semangat yang hendak mempergunakan uang itu semangat melempem, tidak bisa tercapai apa yang hendak kita tuju. Karena itu Saudara-saudara, saya amat bergembira sekali dengan pidato Komandan Sutami, dan Waperdam I Subandrio yang mengatakan kerja keras, semangat hebat.
Nah ini saya minta kepada kamu orang sekali lagi, supaya betul-betul bekerja keras dengan tekad, semangat yang sehebat-hebatnya. Janganlah kita setengah-setengah. Sebab sebagai tadi dikatakan oleh Pak Bandrio, Conefo itu sebenarnya adalah satu hal yang mengenai, meskipun tidak mutlak, mengenai kelanjutan  hidup kita sebagai negara, sebagai bangsa yang merdeka.
CONEFO SUATU KEMUTLAKAN
Tadi Pak Bandrio menceritakan hal imperialisme internasional, yang jangan mengira kita bisa mengalahkan imperialisme internasional itu dengan cara teknik tradisional, tetapi pertama harus dengan semangat kemerdekaan yang berkobar –kobar diantara seluruh New Emerging Forces.
Pada waktu demonstrasi-demonstrasi mahasiswa, Saudara-saudara, ada yang berteriak: “He, buat apa bikin Conefo”. Ada juga: “Buat apa Tugu Nasional”. “Buat apad Departemen Store Sarinah”. “Yang penting ialah harga beras, harga beras”. Lantas di dalam salah satu pidato saya, saya terangkan bahwa Zelfs, bahkan sampai-sampai kepada Tugu Nasional itu adalah satu kemutlakan bagi kita. Sebagai yang kukatakan, Tugu Nasional adalah menurut istilah Chrustjov, celana. Demikian pula Departemen Store Sarinah adalah suatu kemutlakan buat berjalannya satu masyarakat sosialis, Conefo demikian juga.
Dunia sekarang ini, di dalam konstelasi dunia sekarang ini, kalau kita hendak berdiri terus sebagai negara, kita pertama-tama harus himpun tenaga, semua tenaga-tenaga progresif-revolusioner di muka bumi ini.
Perkataan progresif revolusioner ini sekarang pun sudah menjadi perkataan tukang jual kecap. Iya, tiap-tiap orang menebah dada, “aku progresif revolusioner, aku progresif revolusioner”. Dan aku sering tanya, apa toh, yang bernama progresif revolusioner itu apa? Plonga-plongo, nggak ngerti, seperti orang jual kecap yang selalu berkata: “he, kecapku nomor satu, kecapku yang paling enak, kecapku yang paling enak, kecapku tidak ada tandingannya”. Kecap, kecap, kecap, kecap. Progresif revolusioner pun dikecapkan, Saudara-saudara. “Aku progresif revolusioner,  aku progresif revolusioner, aku progresif revolusioner”.

No comments:

Post a Comment