ANGKATAN BERSENJATA UNTUK
MENYELAMATKAN NEGARA TERHADAP MUSUH DARI LUAR DAN DARI DALAM
Amanat
Presiden Sukarno pada
Resepsi Rapat Kerja
Komando Utama
Angkatan
Laut Republik Indonesia
pada tanggal 1
Februari 1966
di
Istana Negara, Jakarta
P.J.M. Presiden
Sukarno:
“………… jadi saya minta kepada semua ALRI, waah, anggota-anggota ALRI,
agar supaya menyadari akan hal ini, bahwa Revolusi kita adalah
progresif-revolusioner, dus negara kita adalah negara yang sebenarnya harus
progresif, sebagai alat daripada Revolusi yang progresif itu. Dus, dus, dus,
dus, dus, Angkatan Bersenjata kita barulah Angkatan Bersenjata yang benar-benar
tepat bagi Republik Indonesia itu, jikalau Angkatan Bersenjata itupun progresif.
Saya tidak suka, tidak senang mempunyai perwira-perwira di dalam Angkatan
Bersenjata kita ini, kalau mereka itu tidak progresif revolusioner”.
17 AGUSTUS PELEDAKAN DI TENGAH
PERJALANAN
Saudara-saudara sekalian,
Pada malam ini Saudara-saudara
menghadap kepada Panglima Tertinggi untuk mendapat restu dan amanat untuk rapat
kerja Komando Utama ALRI. Saya memberi restu, oleh karena memang saya anggap
pula amat perlu dan penting kita mengadakan rapat kerja itu, terutama sekali di
dalam situasi Revolusi kita sekarang ini, situasi negara kita sekarang ini,
situasi perjuangan kita sekarang. Situasi Revolusi kita, situasi negara kita,
situasi perjuangan kita pada saat sekarang ini minta agar supaya kita
mengadakan betul-betul pemikiran ayang amat mendalam, agar supaya Revolusi kita
bisa berjalan terus dengan cepat dan baik, agar supaya negara kita tetap jaya,
agar supaya perjuangan kita bisa berjalan terus dengan pesat.
Revolusi kita adalah benar-benar
revolusi, bukan sekadar putch, kataku. Apa yang kita kerjakan pada tanggal 17
Agustus ’45, dua puluh tahun yang lalu, itu bukan sekadar putch – putch yaitu
satu, uuh, katakanlah, semacam coup – tetapi apa yang kita kerjakan pada
tanggal 17 Agustus ’45 itu adalah satu peledakan daripada Revolusi kita. Peledakan
didalam arti bukan permulaan, tetapi satu peledakan onderweg, satu peledakan
pada waktu kita berjalan. Sebab Revolusi kita bukan mulai pada tanggal 17
Agustus ’45. Revolusi kita telah mulai beberapa puluh tahun yang lalu, hanya
pada tanggal 17 Agustus ’45 itu meledak, menjulang tinggi ke langit dengan kita
mengadakan proklamasi 17 Agustus.
Revolusi kita ini menuju apa? Sudah sering saya katakan
bahwa Revolusi kita menuju kepada pelaksanaan Ampera, pelaksanaan Ampera,
Amanat Penderitaan Rakyat, yang pun sudah sering saya terangkan, bahkan
dirasakan sendri oleh rakyat, oleh rakyat, oleh karena Ampera adalah keluar
daripada kalbu rakyat, bukan keluar dari kalbuku, bukan keluar dari kalbu
seorang pemimpin, tetapi rakyat yang mengeluarkan Ampera itu, mengadakan Amanat
itu, yaitu sebagai sudah sering kukatakan: negara Indonesia merdeka berbentuk
Republik Kesatuan yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke; kedua: satu
masyarakat adil dan makmur di Indonesia; tiga: satu dunia baru tanpa
exploitation de l’homme par l’homme dan tanpa exploitation de nation par
nation. Ini tetap, Ampera itu.
Dus tujuan Revolsi kita tetap,
tujuan Revolusi ktia tetap pelaksanaan dari Ampera itu. Perjalanan kita yang
berpuluh-puluh tahun – meledak pada tanggal 17 Agustus ’45 sebagai explosion
underway, kataku, peledakan onderweg – itu tetap. Dus, dus, dus, dus, dus
bahkan 17 Agustus ’45 itu tidak merobah kepada garis daripada Revolusi kita
itu, sebab 17 Agustus ’45 an sich, op zich zelf, hanyalah sekadar satu
peledakan onderweg. Sebenarnya tanpa 17 Agustus ’45 pun Revolusi kita itu tetap
revolusi yang sebagai kita kenal Revolusi pengejar Ampera. 17 Agusutus ’45
adalah sekadar satu peledakan, peledakan untuk menyatakan lebih tegas, bahwa
Ampera itu membutuhkan atau mengamanatkan kepada satu negara merdeka berbentuk
Republik Kesatuan, berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Kan itu yang
kita nyatakan pada tanggal 17 Agustus. Dengan ini kita mengadakan Republik
Indonesia, dengan ini kita adalah merdeka, dengan ini kita tidak lagi satu
wilayah daripada kerajaan negeri Belanda. Jadi hanya sekadar satu pernyataaan.
Demikian pula maka sebetulnya –
dan ini saya sudah ceritakan berpuluh-puluh-puluh-puluh kali – Gestok itu
sekadar satu peledakan di dalam Revolusi kita ini. Saya tidak mengatakan
peledakan yang menyenangkan kita, neen, malahan saya nyatakan satu peledakan
yang tragis, satu peledakan yang harus kita kutuk, tetapi sekadar satu
peledakan. Malahan saya katakan satu rimpel didalam samudera daripada Revolusi
kita ini, satu rimpel di dalam ocean daripada revolusi kita ini. Ada pihak yang
mengatakan, coba Presiden itu, Gestok dikatakan sekadar satu rimpel. Saya toh
sudah berkata, rimpel, kalau dilihat daripada peninjauan tinggi daripada
kejadian di duia ini; rimpel, kalau dilihat daripada teropongan yang tinggi
daripada Revolusi kita ini. Tetapi kalau dilihat daripada tempat rimpel itu,
julangan air di dalam ocean itu – kamu orang dari Angakatan Laut mengetahui
betul – wee, julangan air itu kadang-kadang tingginya sepuluh meter, duapuluh
meter, tigapuluh meter, yang amat mendahsyatkan kita punya hati.
(Bersambung...)
No comments:
Post a Comment