Friday, April 20, 2018

Angkatan Bersenjata - Pidato Bung Karno



ANGKATAN BERSENJATA UNTUK MENYELAMATKAN NEGARA TERHADAP MUSUH DARI LUAR DAN DARI DALAM


 
Amanat  Presiden  Sukarno  pada  Resepsi   Rapat  Kerja  Komando  Utama
Angkatan  Laut  Republik  Indonesia  pada  tanggal  1  Februari  1966 
di  Istana Negara, Jakarta


 


P.J.M. Presiden Sukarno:
“………… jadi saya minta kepada semua ALRI, waah, anggota-anggota ALRI, agar supaya menyadari akan hal ini, bahwa Revolusi kita adalah progresif-revolusioner, dus negara kita adalah negara yang sebenarnya harus progresif, sebagai alat daripada Revolusi yang progresif itu. Dus, dus, dus, dus, dus, Angkatan Bersenjata kita barulah Angkatan Bersenjata yang benar-benar tepat bagi Republik Indonesia itu, jikalau Angkatan Bersenjata itupun progresif. Saya tidak suka, tidak senang mempunyai perwira-perwira di dalam Angkatan Bersenjata kita ini, kalau mereka itu tidak progresif revolusioner”.



17 AGUSTUS PELEDAKAN DI TENGAH PERJALANAN

Saudara-saudara sekalian,
Pada malam ini Saudara-saudara menghadap kepada Panglima Tertinggi untuk mendapat restu dan amanat untuk rapat kerja Komando Utama ALRI. Saya memberi restu, oleh karena memang saya anggap pula amat perlu dan penting kita mengadakan rapat kerja itu, terutama sekali di dalam situasi Revolusi kita sekarang ini, situasi negara kita sekarang ini, situasi perjuangan kita sekarang. Situasi Revolusi kita, situasi negara kita, situasi perjuangan kita pada saat sekarang ini minta agar supaya kita mengadakan betul-betul pemikiran ayang amat mendalam, agar supaya Revolusi kita bisa berjalan terus dengan cepat dan baik, agar supaya negara kita tetap jaya, agar supaya perjuangan kita bisa berjalan terus dengan pesat.
Revolusi kita adalah benar-benar revolusi, bukan sekadar putch, kataku. Apa yang kita kerjakan pada tanggal 17 Agustus ’45, dua puluh tahun yang lalu, itu bukan sekadar putch – putch yaitu satu, uuh, katakanlah, semacam coup – tetapi apa yang kita kerjakan pada tanggal 17 Agustus ’45 itu adalah satu peledakan daripada Revolusi kita. Peledakan didalam arti bukan permulaan, tetapi satu peledakan onderweg, satu peledakan pada waktu kita berjalan. Sebab Revolusi kita bukan mulai pada tanggal 17 Agustus ’45. Revolusi kita telah mulai beberapa puluh tahun yang lalu, hanya pada tanggal 17 Agustus ’45 itu meledak, menjulang tinggi ke langit dengan kita mengadakan proklamasi 17 Agustus.
Revolusi kita  ini menuju apa? Sudah sering saya katakan bahwa Revolusi kita menuju kepada pelaksanaan Ampera, pelaksanaan Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat, yang pun sudah sering saya terangkan, bahkan dirasakan sendri oleh rakyat, oleh rakyat, oleh karena Ampera adalah keluar daripada kalbu rakyat, bukan keluar dari kalbuku, bukan keluar dari kalbu seorang pemimpin, tetapi rakyat yang mengeluarkan Ampera itu, mengadakan Amanat itu, yaitu sebagai sudah sering kukatakan: negara Indonesia merdeka berbentuk Republik Kesatuan yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke; kedua: satu masyarakat adil dan makmur di Indonesia; tiga: satu dunia baru tanpa exploitation de l’homme par l’homme dan tanpa exploitation de nation par nation. Ini tetap, Ampera itu.
Dus tujuan Revolsi kita tetap, tujuan Revolusi ktia tetap pelaksanaan dari Ampera itu. Perjalanan kita yang berpuluh-puluh tahun – meledak pada tanggal 17 Agustus ’45 sebagai explosion underway, kataku, peledakan onderweg – itu tetap. Dus, dus, dus, dus, dus bahkan 17 Agustus ’45 itu tidak merobah kepada garis daripada Revolusi kita itu, sebab 17 Agustus ’45 an sich, op zich zelf, hanyalah sekadar satu peledakan onderweg. Sebenarnya tanpa 17 Agustus ’45 pun Revolusi kita itu tetap revolusi yang sebagai kita kenal Revolusi pengejar Ampera. 17 Agusutus ’45 adalah sekadar satu peledakan, peledakan untuk menyatakan lebih tegas, bahwa Ampera itu membutuhkan atau mengamanatkan kepada satu negara merdeka berbentuk Republik Kesatuan, berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Kan itu yang kita nyatakan pada tanggal 17 Agustus. Dengan ini kita mengadakan Republik Indonesia, dengan ini kita adalah merdeka, dengan ini kita tidak lagi satu wilayah daripada kerajaan negeri Belanda. Jadi hanya sekadar satu pernyataaan.
Demikian pula maka sebetulnya – dan ini saya sudah ceritakan berpuluh-puluh-puluh-puluh kali – Gestok itu sekadar satu peledakan di dalam Revolusi kita ini. Saya tidak mengatakan peledakan yang menyenangkan kita, neen, malahan saya nyatakan satu peledakan yang tragis, satu peledakan yang harus kita kutuk, tetapi sekadar satu peledakan. Malahan saya katakan satu rimpel didalam samudera daripada Revolusi kita ini, satu rimpel di dalam ocean daripada revolusi kita ini. Ada pihak yang mengatakan, coba Presiden itu, Gestok dikatakan sekadar satu rimpel. Saya toh sudah berkata, rimpel, kalau dilihat daripada peninjauan tinggi daripada kejadian di duia ini; rimpel, kalau dilihat daripada teropongan yang tinggi daripada Revolusi kita ini. Tetapi kalau dilihat daripada tempat rimpel itu, julangan air di dalam ocean itu – kamu orang dari Angakatan Laut mengetahui betul – wee, julangan air itu kadang-kadang tingginya sepuluh meter, duapuluh meter, tigapuluh meter, yang amat mendahsyatkan kita punya hati.

(Bersambung...)

No comments:

Post a Comment